Monday, March 25, 2013

Pameran Seni Rupa 15th Kelompok SePi "VAN nJAVA" TBY 2013




Pameran Seni Rupa 15th Kelompok SePi
Taman Budaya Yogyakarta 2013
  
Tema :
Van nJava: Lokalitas yang Mendunia
Kalau kita meng-Google kata ‘java’, yang pertama dan paling banyak kita temukan adalah ‘java’ sebagai nama bahasa program computer yang dikembangkan oleh Sun Corporation. Program ini sangat popular dan dipakai lebih dari 10 juta program untuk menjalankan layanan berbasis jaringan. Konon, ‘bahasa Jawa’ untuk computer ini di namai ‘java’ karena para pengembang program ini banyak mengkonsumsi kopi Jawa.
Urutan kedua yang kita temukan dalam mesin pencari Google adalah ‘Java coffee’ alias kopi Jawa. Kopi Jawa yang awalnya pertaniannya dikelola oleh Belanda ketika mereka menjajah Jawa sekarang menjadi terkenal di seantero dunia. Ekspor kopi dari Jawa diawali pada abad ke 17. Bahkan kata ‘java’ sendiri di Amerika itu artinya secangkir kopi Jawa. Makna ‘java’ menyurut menjadi kopi saja. Tanah di mana kopi itu ditanam dan petani-petani yang merawat pokok-pokok kopi terlupakan.
Java sebagai sebuah nama, sebuah lokalitas, telah mendunia salah satunya lewat kopi dan yang pada perkembangannya kemudian mendapat makna baru menjadi sebuah bahasa program. Namun demikian makna yang lebih luas, sebagai sebuah pulau dan sebagai sebuah suku bangsa semakin tereduksi. Secara global makna Java menjadi secangkir kopi atau sebuah bahasa program computer saja. Tak heran jika hal ini menjadi kecemasan tersendiri bagi orang Jawa. Bahkan tak jarang kita mendengar keluhan tentang tercabutnya nilai-nilai kultural yang dulu dimiliki oleh orang Jawa tidak terwariskan secara semestinya kepada generasi berikutnya. Misalnya generasi baru orang Jawa tidak lagi mengenal cerita-cerita rakyat yang dimiliki, permainan-permainan anak tradisional terlupakan dan digantikan oleh game-game komputer. Cerita-cerita wayang hampir hilang di hati anak-anak tergantikan oleh komik-komik super hero.
Inilah sekelumit ide-ide yang muncul pada diskusi Kelompok SEPI dalam rangka menyiapkan pameran untuk kegiatan pameran tahunan pada tahun 2013 ini. Kelompok SEPI dibentuk pada tahun 1998. Tahun ini kelompok perupa ini genap berusia 15 tahun.
“Van nJava: Lokalitas Mendunia” adalah tema yang dipilih sebagai ungkapan keprihatinan dan sebagai ungkapan harapan. Keprihatinan atas terdesaknya budaya-budaya lokal pada umumnya, dan khususnya budaya Jawa sebagai budaya yang membentuk dan menumbuhkan sebagian besar anggota Kelompok SEPI. Namun pada saat yang sama tumbuh pula harapan karena globalisasi bisa menduniakan sebuah lokalitas seperti yang terjadi pada kopi Jawa misalnya.
Pada pameran yang akan diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta ini Kelompok Sepi mengundang perupa dari berbagai kota untuk berkolaborasi mewarnai dunia lokalitas senirupa Yogyakarta demi mencoba memberi sumbangan terhadap globalisasi. Dengan demikian seperti penyebaran kopi Jawa lokalitas bersifat kontributif dan globalisasi bukan kolonialisasi satu arah.
Pameran akan diadakan dari tgl 21 – 25 September 2013. Pameran ini terbuka bagi semua perupa yang bersedia mengikuti seleksi kuratorial. Filosofi dan ideology kelompok Sepi selama 15 tahun tetap konsisten memberi wadah dan ruang bagi perupa dari berbagai golongan yang kadang termarginalkan dengan tetap mempertimbangkan kualitas ide maupun visual.

Syarat dan Ketentuan
1.    Karya tidak dibatasi, bebas, boleh 2D atau 3D (Lukisan, Patung, Instalasi, Foto digital art)
2.    Berukuran minimal bersisi 100 cm. Maksimal bersisi total 300 cm.
3.    Peserta mengirimkan foto karya dalam format File JPEG 300 DPI (ukuran sisi terpendek 2400 pixel) dalam bentuk CD, bisa di kirim via pos, email atau langsung ke sekretariat Kelompok Sepi.
4.    Dengan disertai Nama seniman, Judul karya, Media, Ukuran, Tahun pembuatan.
5.    Konsep, isi atau muatan karya
(format micrsoft word/notped).
6.    Peserta menyertakan CV seniman tiga tahun terakhir.
7.    Tiap peserta boleh mengirimkan maksimal 3 (tiga) karya.
8.    Karya yang boleh diikutkan adalah ciptaan tahun 2011 – 2013.
9.    Batas akhir pengiriman File foto karya Minggu, 14 Juli 2013.
10. Sistem kapling.
11. Bila ada karya yang laku terjual, maka akan dikenakan potongan sebesar 20% untuk kas Kelompok SePi.
Proses penyeleksian
1.    Karya akan diseleksi melalui file foto karya yang kami terima.
2.    Karya yang masuk seleksi bisa lebih dari 1 ( satu ) karya.
3.    Karya yang masuk katalog 1 (satu).
4.    Hasil seleksi akan di umumkan
21 Juli 2013, via sms dan bisa dilihat di media on line facebook Kelompok SEPI

Iuran peserta
1.    Peserta yang masuk seleksi membayar iuran :
-      Tiga Ratus Ribu Rupiah (Rp. 300.000,-) untuk satu karya
-      Lima Ratus Ribu Rupiah (Rp. 500.000,-) untuk dua karya
-      Enam Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah (Rp. 650.000,-) untuk tiga karya

Waktu dan tempat
1.    Pameran akan di selenggarakan di TBY (Taman Budaya Yogyakarta) 21-25 September 2013

Pengambilan/pengumpulan formulir dan pengiriman file foto karya di :
Sekretariat Kelompok SePi
Jl. I Dewa Nyoman Oka 4 A,
Kotabaru Yogyakarta.
CP : Yundhi Pra             : 08562899754
       Agus Nuryanto      : 081392031686
       Agus Yuliantara     : 087839846109



Formulir Peserta
15th Kelompok SePi, Taman Budaya Yogyakarta 2013

Nama

Alamat


HP/Telepon


Email


Judul Karya 1

Media

Ukuran

Tahun

Harga


Judul Karya 2

Media

Ukuran

Tahun

Harga


Judul Karya 3

Media

Ukuran

Tahun

Harga


*formulir bisa di copy

Wednesday, October 24, 2012

Lukisan Budiyana Sebagai Canda Makna



Menurut penuturan pelukis Budiyana, ide atau pikiran yang mendasari pemberian judul pameran ini adalah sebuah plesetan atau permainan kata untuk member makna yang lucu. Jawawood bisa sebuah plesetan yang berhubungan dengan kata Jawawut jenis biji-bijian semacam padi yang konon menjadi makanan orang-orang yang berdiam di pulau Jawa. Bisa juga Jawawood dihubungkan dengan Hollywood atau Bollywood yang menjadi ikon film sebagai sebuah hasil kebudayaan.
Bagi saya karya-karya Budiyana bukanlah sekedar plesetan. Karya-karya Budiyana lebih sebagai sebuah guyon maton atau canda yang penuh makna. Canda makna adalah sebuah tradisi dalam masyarakat Jawa untuk menyampaikan sebuah pesan penting atau menyampaikan sebuah pengetahuan secara tidak langsung. Pesan yang disampaikan secara tidak langsung dengan bahasa yang berbalut canda ini mempunyai beberapa tujuan. Setidaknya ada tiga tujuan dari sebuah canda makna. Pertama pesan yang berbalut canda akan menjadi menarik dan tidak membosankan. Kedua, pesan yang berupa kritik yang dibalut canda akan menjadi halus dan segar sehingga tidak akan menimbulkan konflik bagi yang mengritik dan yang dikritik. Ketiga, pesan yang berisi pembelajaran atau pengetahuan yang berbalut canda akan penuh dengan simbol. Pesan yang disampaikan tidak mentah sehingga penerima pesan atau pembelajar harus mengupas simbol-simbol yang ada supaya bisa memahami maknanya. Proses pengupasan makna ini adalah sebuah proses pembelajaran yang tentu tidak mudah. Pembelajar harus berusaha keras mengupas balutan candanya untuk mendapatkan inti dari sebuah pesan tersebut. Ini adalah sebuah proses mengasah kecerdasan sekaligus pencerdasan.

Canda Makna

Seperti yang saya ungkapkan di atas, tujuan pertama dari sebuah canda makna adalah menyampaikan pesan secara menarik. Saya berteman dengan pelukis Budiyana semenjak tahun 1998an ketika kami sama-sama membentuk Kelompok SEPI. Semenjak itulah kami sering terlibat diskusi, bertukar ide-ide tentang seni rupa pada umumnya dan tak jarang berkarya bersama-sama. Mengamati perkembangan lukisan Budiyana secara sekilas seperti menonton dagelan Mataraman. Lukisan yang baru selalu segar dan ada unsur-unsur kelucuannya.
Lucu, segar, dan menarik. Itulah kesan yang selalu muncul dari lukisan Budiyana. Apakah berhenti pada lucu dan menarik saja? Tentu saja tidak. Dalam kelucuan itu selalu tersimpan makna sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh Budiyana kepada penikmat karyanya. Misalnya salah satu lukisan yang dibuat Budiyana pada tahun 2000an berjudul ‘Foto Bareng van Gogh’.  Lukisan ini menggambarkan orang-orang berbadan tambun berpakaian Jawa khas lukisan Budiyana sedang berdiri berjajar berfoto dengan Vicent van Gogh pelukis legendaries Belanda. Orang-orang ber-blangkon dan bersarung berfoto bareng van Gogh dengan telinga terbalut dan merokok pipa.
Orang yang melihat lukisan ini biasanya akan senyum-senyum atau tertawa ngakak. Tetapi kalau kita mau berhenti sejenak di depan lukisan ini dan mengupas bungkus candanya, mungkin kita akan menemukan sebuah makna. Mungkin sebuah refleksi atau bahkan sebuah kritik terhadap diri pelukis sendiri atau bahkan pada senirupa Indonesia secara keseluruhan. Bisakah orang Jawa berfoto bejajar dengan van Gogh? Bisakah seniman Indonesia berdiri sejajar dengan seniman Barat? Bisakah seniman Indonesia menggali ke-indonesia-annya sendiri dan sejajar dengan seniman dari seluruh dunia? Ataukah kita hanya akan selalu mengimpor, mengekor budaya dari Negara lain?

Kedua, canda makna adalah sebuah kritik tanpa konflik. Akhir-akhir ini kita mendengar, melihat, dan membaca tentang terjadinya banyak konflik yang tak jarang memakan korban jiwa. Mengapa konflik ini terjadi? Salah satu penyebabnya saya kira adalah perbedaan. Sebuah kelompok masyarakat memberikan saran kepada kelompok yang lain yang mempunyai pendapat berbeda. Namun saran tersebut disampaikan bukan lagi dengan kata-kata namun dengan tindak kekerasan. Apakah sarannya sampai? Saya kira tidak.
Dengan guyon maton, kritikan dan saran bisa disampaikan dengan segar dan halus. Dengan kesegaran dan kehalusan justru biasanya isi pesan akan diterima. Di sinilah saya kira salah satu keunggulan Budiyana karena dia bisa membalut gejala-gejala sosial yang ada dalam masyarakat dengan sebuah canda.
Ketiga, guyon maton ala Budiyana ini memang penuh simbol. Sesudah tersenyum-senyum dengan candanya di permukaan, kita harus menyelam ke dalam mencoba mengurai simbol yang dipakai supaya bisa menemukan maknanya. Kebanyakan tema lukisan Budiyana adalah tema keluarga atau kejadian sosial sebuah masyarakat, yang diwakili oleh masyarakat Jawa. Namun pesan yang disampaikan oleh lukisan-lukisan tersebut tidak hanya terbatas pada masyarakat Jawa tetapi juga tentang masyarakat etnis lain di Indonesia yang budayanya terpinggirkan oleh budaya global. Lukisan-lukisan Budiyana tak jarang adalah catatan sejarah (dengan huruf ‘s’ kecil) tentang kepunahan tradisi yang ada dalam masyarakat Jawa dan tentu saja juga terjadi pada tradisi masyarakat etnis lain.
Lagi-lagi makna terdalam dari canda ini secara keseluruhan adalah: Akankah tradisi atau kebudayaan Jawa (dan etnis lain) mengglobal menjadi Jawawood seperti halnya Bollywood dan Hollywood? Ataukah akan menjadi punah seperti tanaman Jawawut?
Selamat menikmati canda makna Budiyana sambil tersenyum-senyum. Tetapi jangan lupa menyelam lebih dalam supaya Anda berjumpa dengan maknanya. Pameran akan dibuka pada hari Jumat, 2 November 2012, Jam 19.00 di BENTARA BUDAYA YOGYAKARTA, Jl. Suroto 2 Kotabaru Yogyakarta. Pameran akan berlangsung hingga 11 November 2012.

Thursday, August 25, 2011

Cheng Shui Fine Art Exhibition

Cheng Shui exhibition was cooperation between the members of Kelompok SEPI and artists from around Surabaya, East Java. It was held for one week starting from July 15 – 21, 2011 at the Gallery of Surabaya Art Council.

The exhibition was officially opened by Mr. Sabrot D. Malioboro, the director of Surabaya Art Council. Thirty four artists participated in the exhibition. Art performance by Yundhi Pra and poetry reading by Mac Guyoon and Greg initiated the opening ceremony.










Pameran ini adalah hasil kerja bareng Kelompok SEPI dan para perupa dari Surabaya. Pameran dengan tajuk Cheng Shui ini dilaksanakan di gedung Dewan Kesenian Surabaya selama seminggu mulai tanggal 15 – 21 Juli 2011.

Pameran dibuka oleh Kepala Dewan Kesenian Surabaya, Bapak Sabrot D. Malioboro. Pameran diikuti oleh 34 perupa anggota Kelompok Sepi dan juga seniman dari Surabaya. Art performance oleh Yundhi Pra dan pembacaan puisi oleh Mac Guyoon dan Greg memeriahkan pembukaan pameran ini.

Artipak Exhibition






Artipak which consists of two words, English word “art” and Javanese word “tipak” which means trail, track, or mark was the theme of the exhibition. It sounds like artifact in English. Indeed, the exhibition was a response to an artifact, Borobudur which is the biggest Buddhist temple in the world. The artists tried to create an artifact that will contribute to the development of art in Indonesia. The exhibition was held at Limanjawi Art House which is located near Borobudur Temple.

The exhibition was opened by Drs. Susilo also known as Den Bagus Ngarso, a well known comedian, performer, and teacher. Art-performance by artists from Central Java was also part of the opening ceremony. Twenty artists from Jogjakarta and Central Java participating in the exhibition which was opened for public from Februari 19 – 28, 2011.

------------------------

Artipak yang terdiri dari dua kata, kata “art” dari Bahasa Inggris dan kata “tipak” dari bahasa Jawa yang berarti tapak, jejak, atau tanda adalah tema pameran ini. Memang terdengar seperti kata ‘artifact’ dalam bahasa Inggris. Sesungguhnya pameran ini memang merupakan sebuah tanggapan atas sebuah artefak yang berupa candi Budha terbesar di dunia, Borobudur. Para perupa mencoba membuat sebuah karya seni yang akan menjadi artefak perkembangan seni rupa di Indonesia. Pameran ini di selenggarakan di Limanjawi Art House yang terletak di dekat Candi Borobudur.

Pameran ini dibuka oleh Drs.
Susilo yang juga dikenal sebagai Den Baguse Ngarso yang seorang pelawak, dramawan, dan guru. Pembukaan juga dimeriahkan dengan Art-performance dari

para perupa Jawa Tengah. Sekitar 20 perupa dari Jogjakarta dan Jawa Tengah berpartisipasi dalam pameran yang berlangsung dari tanggal 19 – 28 Februari 2011.





Thursday, February 03, 2011

When Artists Meet Writers: Canting vs SEPI


Proses kreatif dan kumpul-kumpul biasanya berhubungan erat. Dalam kumpul-kumpul orang berdiskusi dan muncul ide-ide kreatif. Sore ini (10 Januari 2011, jam 4 – 11) Kompasioner Jogja yang tergabing dalam Canting kumpul-kumpul dengan beberapa perupa Kelompok SEPI di Studio MpatArt di Jl. I Dewa Nyoman Oka no 4A Kotabaru, Jogjakarta.

Setidaknya ada dua persamaan yang saya tangkap dari dua kelompok ini. Yang pertama adalah kreatifitas dan proses kreatif, perupa dan penulis sama-sama dituntut mempunyai kreatifitas yang tinggi untuk menghasilkan karya tulisan ataupun karya senirupa. Akanlah sangat menarik mengobrolkan proses kreatif dalam berkesenian dan dalam menulis. Samakah proses kreatif seorang perupa dan seorang penulis?




Persamaan yang kedua adalah kedua kelompok ini sama-sama mempunyai keprihatinan terhadap sesama yang kurang beruntung. Teman-teman Kompasioner Jogja mempunyai proyek membuat sebuah perpustakaan untuk anak-anak di desa terpencil di bagian selatan Jogja. Sekarang mereka sedang menggalang dukungan untuk membangun Studio Biru dan membuat program Seribu Burung Kertas. Kelompok SEPI juga sering terlibat dengan kegiatan serupa misalnya Trauma Healing untuk anak-anak korban bencana serta berbagai pelatihan yang berhubungan dengan seni rupa bagi masyarakat yang terpinggirkan.

Kelompok SEPI menyerahkan bantuan berupa buku, alat tulis dan gambar untuk kegiatan Canting di Sekolah Mbrosot.

Obrolan berlangsung serius namun penuh canda. Banyak ide-ide yang bermunculun tentang kemungkinan kerjasama antara dua kelompok ini. Semoga akan segera terealisir.











Trauma Healing for Children around Merapi


Kelompok Sepi Kembali melakukan sebuah program trauma healing bagi anak-anak korban bencana. Kegiatan kali ini adalah dengan menggambar bersama dan pembagian alat tulis dan alat gambar bagi anak-anak korban letusan Gunung Merapi di pengungsian-pengungsian Seyegan dan Muntilan. Kegiatan ini diharapkan mampu digunakan sebagai ajang menuangkan segala beban psikologis anak-anak korban bencana Merapi tersebut dalam bentuk gambar. Dengan demikian kesehatan jiwa anak-anak yang tertekan akibat bencana ini terjaga.



Kegiatan ini juga bekerjasama dengan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogykarta. Para mahasiswa Jurusan Sastra Inggris memberikan hiburan bagi anak-anak di pengungsian-pengungsian tersebut berupa pertunjukan panggung boneka.